Sebenarnya di negara ini begitu banyak sekali anak-anak bangsa yang memiliki potensi kreatifitas baik dalam bidang seni,akademi,dan sains. Terlebih di era sebelum reformasi ini hampir semua karya-karya yang dilahirkan oleh para anak bangsa ini adalah merupakan suatu karya orsinilitas,bagus,mengagumkan dan tanpa mengurangi substansi dari karya tersebut. Yang seniman musik,mereka mampu menciptakan begitu banyak lagu dengan berbagai perpaduan alat musik,nada,ritme yang bunyinya tetap masih bisa kita nikmati tanpa membuat kita sedih dan berkecil hati, liriknya pun penuh makna serta membawa pesan moral bagi setiap pendengarnya,walaupun proses pembuatan karya tersebut tidak lah mudah alias sangat sulit. Tapi justru disitu lah letak nilai otentik dan orsinilitas seni dalam sebuah karya dan kreatifitas. Bukan hanya bermodalkan materi dan relasi nepotisme belaka.
Hal ini lah yang akhirnya menyebabkan terjadinya pengikisan
mental di segala aspek kehidupan bangsa. kemurnian,kesungguhan,kejujuran dan
kesetiaan dalam etos kerja sangatlah penting bagi manusia dalam menjalankan
kehidupanya di segala aspek,termasuk seperti yang diatas tadi. Dan jika hal-
hal tersebut diatas ditinggalkan dalam berproses baik berkarya atupun bekerja,
maka jangan harap kita bisa menghasilkan sesuatu yang benar-benar memiliki
nilai substansi yang tinggi,yang bisa memberikan dampak positif bagi diri kita
sendiri maupun orang lain. Tapi apalah arti semua itu,toh kehidupan kita sudah
di zaman yang seperti ini,zaman yang penuh perlombaan dalam meraih kepalsuan. Kita
berlomba antar sesama sampai mengahalalkan segala cara demi tercapainya suatu
tujuan yang tidak murni,yang tidak sesuai hati nurani dan asas
kemanusiaan,kecuali hanya sebuah ego pribadi.
Sekolah sudah tidak lagi mendidik mental dan moral anak
bangsa,karena hakikatnya sudah bukan lagi suatu lembaga pendidikan yang
mencerdaskan bangsa,melainkan kapitalisme perdagangan yang menghasilkan
keuntungan bagi setiap pemilik modal. Dan kini Para orang tua mendukung anak-anaknya untuk sekolah setinggi
mungkin,tidak lain tujuanya hanyalah agar sesegera mungkin sang anak mendapatkan
selembar kertas supaya mudah melamar menjadi pekerja dan syukur-syukur
bisa menjadi pegawai negri. Bukan untuk bersungguh-sungguh menemukan dan mengembangkan potensi jatidiri nya,berjiwa kepemimpinan,sehingga dapat menciptakan suatu karya dan usaha yang dampaknya bisa turut serta membantu memperbaiki kondisi bangsa. Tapi sebaliknya,hampir rata-rata para lulusan pelajar baik tingkat SMA atau Sarjana setelah mereka selesai dari pendidikan,justru mereka sibuk bahkan bingung untuk mencari pekerjaan. Memang tak dapat dipungkiri,bahwa salah satu sebab dari semua fenomena yang terjadi tidak lain adalah kondisi ekonomi masyarakat kita yang memaksa untuk tak perlu lagi berpegang pada etos kerja,tak perlu memperdulikan subtansi dan kemurnian hasil karya,kejujuran pun sudah tak lagi terlibat di dalamnya. kita lupa terhadap semua itu,yang setiap saat kita ingat terus saat menjelang tidur,bangun tidur,sampai mau tidur lagi pun hanyalah bagaimana cara kita agar sebisa munking dapat mereguk keuntungan yang banyak dari hasi kerja dan karya kita.
hal ini pun mengakibatkan perubahan sudut pandan atau mainset dari setiap orang,baik si anak maupun orang tua. dan fenomena yang sangat memperihatinkan salah satunya adalah sebesar dan sebagus apapun imajinasi,kreatifitas,dan karya kita takkan berarti apa-apa dan tak akan membuat kita dipandang apalagi untuk dihargai. Tapi kalau kita adalah salah seorang dari pegawai perusahaan yang kontrak sekalipun,yang bisa masuk perusahaan dengan mudah karena bapak,paman,dan kawan jaringan kita. Berpakaian dengan kemeja yang dihiasi dasi,celana berbahan licin dan sepatu hitam yang mengkilap,yang jam kerjanya hanya 8 jam per hari,ditambah lagi segala biaya tunjangan kesehatan anak dan istri juga ditanggung oleh perushaan,bahkan kalau bisa sampai segala biaya dan kebutuhan pemakaman kematian kita pun ditanggung oleh perusahaan. Itu baru,kita bisa dipandang,dihargai dan dianggap sukses dimata umum dan orang tua kita. inilah pradigma yang senantiasa terus berkembang dalam pandangan dan pikiran masyarakat kita,jadi bukan tidak mungkin jika semakin hari semakin berkurangnya mental anak bangsa untuk terus bekerja dan berkarya dengan berpegang pada etos kerja.
hal ini pun mengakibatkan perubahan sudut pandan atau mainset dari setiap orang,baik si anak maupun orang tua. dan fenomena yang sangat memperihatinkan salah satunya adalah sebesar dan sebagus apapun imajinasi,kreatifitas,dan karya kita takkan berarti apa-apa dan tak akan membuat kita dipandang apalagi untuk dihargai. Tapi kalau kita adalah salah seorang dari pegawai perusahaan yang kontrak sekalipun,yang bisa masuk perusahaan dengan mudah karena bapak,paman,dan kawan jaringan kita. Berpakaian dengan kemeja yang dihiasi dasi,celana berbahan licin dan sepatu hitam yang mengkilap,yang jam kerjanya hanya 8 jam per hari,ditambah lagi segala biaya tunjangan kesehatan anak dan istri juga ditanggung oleh perushaan,bahkan kalau bisa sampai segala biaya dan kebutuhan pemakaman kematian kita pun ditanggung oleh perusahaan. Itu baru,kita bisa dipandang,dihargai dan dianggap sukses dimata umum dan orang tua kita. inilah pradigma yang senantiasa terus berkembang dalam pandangan dan pikiran masyarakat kita,jadi bukan tidak mungkin jika semakin hari semakin berkurangnya mental anak bangsa untuk terus bekerja dan berkarya dengan berpegang pada etos kerja.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar