Minggu, 31 Januari 2016

Manusia bukanlah Buah




Garis keturunan anak manusia banyak yang sering sekali diibaratkan dengan pohon dan buah, seperti pepatah yang sering kita dengar tentunya “buah yang jatuh tidak akan jauh dari pohonya”. Memang tak bisa kita pungkiri akan kebenaran dari pepatah tersebut. Karena berdasarkan fakta dan realita yang sering terjadi di masyarakat kebanyakan sosok anak pasti seperti ayah atau ibunya, baik scara fisik dan sikap yang terlihat ataupun secara rasa atau jiwanya yang tidak akan dapat dilihat oleh manusia lainya. Tetapi tulisan saya kali ini bukan bermaksud untuk menantang teori atau pepatah yang telah lama dicetuskan dan menjadi salah satu tolok ukur masyarakat kita untuk menjudge setiap perbutan orang lain. Disini saya hanya menyampaikan sudut pandangan yang mungkin bisa untuk sedikit meminimalisir gejala yang ada dari pepatah tersebut.


“Buah yang jatuh tidak akan jauh dari pohonya”  jika kita memahami kalimat tersebut memang ungkapan yang sangat tepat. Karena buah ketika jatuh atau ketika lepas dari tangkai pohon, dia (buah) tentunya sudah tidak lagi memiliki kekuatan atau segala upaya untuk merubah gerak yang dialaminya,apalagi massa dari buah itu rata-rata cukup lumayan berat. buah tidak punya tangan untuk tetap berpegang pada tangkainya dan dia juga tidak punya sayap untuk terbang atau melompat lebih jauh dari pohon. Itu memang sudah menjadi syariat atau ketentuan alam, berbeda halnya dengan bunga atau putik sari yang memiliki massa cukup ringan,sehingga ia bisa terbang terbawa angin dan pergi ke lain tangkai,sehingga bisa mengakibatkan perkawinan silang antar tumbuhan. Hal ini pun merupakan suatu ketentuan alam.


Berbeda dengan anak manusia, manusia merupakan makhluk Tuhan yang paling sempurna dari sekian banyak makhluk, karena manusia dibekali akal, hati, dan nafsu. Dari sini pun seharusnya kita sebagai manusia sudah bisa berfikir bahwa ungkapan buah tadi harusnya tidak melulu untuk dijadikan tolak ukur terhadap gejala kehidupan manusia. Karena contoh kasus yang sering terjadi dimasyarakat adalah, ketika ditemui seorang anak yang bertindak amoral atau buruk, masyarakat pasti akan terlebih dahulu menanyakan siapa orangtua dari si anak tersebut, dan jika telah diketahui orangtua dari anak tersebut yang ndilalah si orangtua pun memiliki kepribadian dan tindaktunduk yang hampir sama dengan apa yang diperbuat oleh si anak tadi, disinilah masyarakat kita sering kali mengungkapkan teori atau pepatah buah tadi. Padahal seperti yang saya uraikan tadi, manusia sudah dibekali akal untuk berfikir dan membangun kesadaran. Seandainya saya adalah si anak tersebut, pertama saya akan belajar membangun kesadaran dalam diri saya dulu, dan mengakui bahwa iya memang selama ini sikap dan perbuatan saya banyak yang buruk, dan memang seperti sikap yang dimiliki orangtua saya. Setelah saya bisa belajar membangunkan kesadaran dalam diri saya, saya akan belajar lagi pada tahap berikutnya yaitu menganalisa,meniliti atau bahasa orang jawa bilang niteni. Belajar menganalisa dari setiap hal atau tindakan yang selama ini saya perbuat,juga sikap dan tindakan orangtua saya, semua saya perhatikan, saya teliti dimana kesalahanya, kesamaan sikap dan perbuatan yang buruk, dan apa yang baik dari orang tua saya. Itu semua harus dipelajari dulu untuk kita bisa melangkah ke tahap berikutnya, kalo kita tidak melakukan menelitian atas itu semua, apalagi tanpa adanya kesadaran yang bangun dari dalam diri kita, tentu mustahil kita dapat merubah suatu keadaan. Kalo sudah begitu namanya bukan manusia lagi, berarti sudah sama dengan buah tadi. Setelah dua tahap tadi sudah dipelajari, tentu masih ada tahapan selanjutnya yang  mana pada tahapan ini memang sedikit lebih berat dibandingkan dengan tahapan yang sebelumnya, yaitu terus berjuang lakukan pergerakan melawan. Gerakan melawan maksud saya disini bukanlah gerakan melawan orang tua kita yang semisal tadi, tapi kita harus bisa belajar untuk terus berjuang melawan segala sikap dan perubuatan buruk yang sudah melekat pada diri kita dan orangtua kita tadi. Kita tidak usah ribut melawan atau memerangi keburukan yang ada pada orang tua kita, karena setiap orangtua memiliki sifat dan karakter yang berbeda beda, ada orangtua yang bisa mendengarkan ucapan dari sang anak dan ada juga orang tua yang tidak terima dengan penyampaian anak, kita fokuskan saja pada diri sendiri dulu. Satu contoh kasus lagi, misalkan saya punya kelainan pribadi yang senang mencuri atau mengambil hak orang lain, dan hal ini pun ternyata memang dimiliki oleh ayah saya juga. Nah pada tahapan ini saya bukan malah menegur dan menyalahkan ayah saya karena diaseorang yang suka mencuri lantas dalam diri saya pun mengalir darah pencuri. Akan tetapi yang saya lakukan adalah berjuang untuk melawan diri saya sendiri dari gejala tersebut, ketika ada kesempatan untuk mencuri dan walau ada keinginan hati untuk mencuri, tapi saya berjuang untuk melawan itu semua, saya belajar untuk tidak sepenuhnya mengikuti hati dan nafsu saja, saya masih punya akal yang untuk berfikir. Tidak Cuma-Cuma dan tanpa tujuan Tuhan memberikan kita akal pikiran, akal memang sengaja diberikan kepada manusia untuk membungkus, melapisi, dan memagari segala keinginan hati dan nafsu. Karena hati dan nafsu tidak ada batasnya, jika kita tanya pada hati dan nafsu kita tentu segalanya kita mau. Untunglah kita punya akal yang bisa menyaring dan mengontrol segala maksud hati.


Jadi kalau memang kita manusia, seharusnya kita bisa untuk tidak seperti buah yang jatuh selalu dekat dengan pohon, kita bisa koq berjuang melawan keburukan dan mempertahankan apa yang baik dari apa yang diwariskan dalam diri dan jiwa orangtua kita. Kita tidak boleh pasrah dan hanya berdiam diri,apalagi sampai menyalahkan orangtua kita, karena biar bagaimanapun karena beliau lah kita ada di dunia ini, seburuk dan sehina apapun orangtua, beliau berhak mendapatkan takzdim dan penghormatan dari kita anak-anak mereka. Dan semoga saja bagi kita yang masih diberi kesempatan oleh Tuhan bisa untuk merubah dan memperbaiki segala sikap dan perbuatan kita agar bisa bermanfaat bagi orang lain, agar kelak anak turun dari diri kita ini bisa juga merasakan dari setiap perjuangan yang dilakukan. Karena setiap perjalanan dan perjuangan bathin seorang ayah atau ibu, akan mengalir dalam darah dan bathin sang anak juga.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar