Garis keturunan anak manusia
banyak yang sering sekali diibaratkan dengan pohon dan buah, seperti pepatah
yang sering kita dengar tentunya “buah yang jatuh tidak akan jauh dari
pohonya”. Memang tak bisa kita pungkiri akan kebenaran dari pepatah tersebut.
Karena berdasarkan fakta dan realita yang sering terjadi di masyarakat kebanyakan
sosok anak pasti seperti ayah atau ibunya, baik scara fisik dan sikap yang
terlihat ataupun secara rasa atau jiwanya yang tidak akan dapat dilihat oleh
manusia lainya. Tetapi tulisan saya kali ini bukan bermaksud untuk menantang
teori atau pepatah yang telah lama dicetuskan dan menjadi salah satu tolok ukur
masyarakat kita untuk menjudge setiap perbutan orang lain. Disini saya hanya
menyampaikan sudut pandangan yang mungkin bisa untuk sedikit meminimalisir
gejala yang ada dari pepatah tersebut.
“Buah yang jatuh tidak akan jauh
dari pohonya” jika kita memahami kalimat
tersebut memang ungkapan yang sangat tepat. Karena buah ketika jatuh atau
ketika lepas dari tangkai pohon, dia (buah) tentunya sudah tidak lagi memiliki
kekuatan atau segala upaya untuk merubah gerak yang dialaminya,apalagi massa
dari buah itu rata-rata cukup lumayan berat. buah tidak punya tangan untuk
tetap berpegang pada tangkainya dan dia juga tidak punya sayap untuk terbang
atau melompat lebih jauh dari pohon. Itu memang sudah menjadi syariat atau
ketentuan alam, berbeda halnya dengan bunga atau putik sari yang memiliki massa
cukup ringan,sehingga ia bisa terbang terbawa angin dan pergi ke lain tangkai,sehingga
bisa mengakibatkan perkawinan silang antar tumbuhan. Hal ini pun merupakan
suatu ketentuan alam.

Berbeda dengan anak manusia,
manusia merupakan makhluk Tuhan yang paling sempurna dari sekian banyak makhluk,
karena manusia dibekali akal, hati, dan nafsu. Dari sini pun seharusnya kita
sebagai manusia sudah bisa berfikir bahwa ungkapan buah tadi harusnya tidak
melulu untuk dijadikan tolak ukur terhadap gejala kehidupan manusia. Karena contoh
kasus yang sering terjadi dimasyarakat adalah, ketika ditemui seorang anak yang
bertindak amoral atau buruk, masyarakat pasti akan terlebih dahulu menanyakan
siapa orangtua dari si anak tersebut, dan jika telah diketahui orangtua dari
anak tersebut yang ndilalah si orangtua pun memiliki kepribadian dan tindaktunduk
yang hampir sama dengan apa yang diperbuat oleh si anak tadi, disinilah
masyarakat kita sering kali mengungkapkan teori atau pepatah buah tadi. Padahal
seperti yang saya uraikan tadi, manusia sudah dibekali akal untuk berfikir dan
membangun kesadaran. Seandainya saya adalah si anak tersebut, pertama saya akan
belajar membangun kesadaran dalam diri saya dulu, dan mengakui bahwa iya memang
selama ini sikap dan perbuatan saya banyak yang buruk, dan memang seperti sikap
yang dimiliki orangtua saya. Setelah saya bisa belajar membangunkan kesadaran
dalam diri saya, saya akan belajar lagi pada tahap berikutnya yaitu
menganalisa,meniliti atau bahasa orang jawa bilang niteni. Belajar
menganalisa dari setiap hal atau tindakan yang selama ini saya perbuat,juga
sikap dan tindakan orangtua saya, semua saya perhatikan, saya teliti dimana
kesalahanya, kesamaan sikap dan perbuatan yang buruk, dan apa yang baik dari
orang tua saya. Itu semua harus dipelajari dulu untuk kita bisa melangkah ke
tahap berikutnya, kalo kita tidak melakukan menelitian atas itu semua, apalagi
tanpa adanya kesadaran yang bangun dari dalam diri kita, tentu mustahil kita
dapat merubah suatu keadaan. Kalo sudah begitu namanya bukan manusia lagi, berarti
sudah sama dengan buah tadi. Setelah dua tahap tadi sudah dipelajari, tentu
masih ada tahapan selanjutnya yang mana
pada tahapan ini memang sedikit lebih berat dibandingkan dengan tahapan yang
sebelumnya, yaitu terus berjuang lakukan pergerakan melawan. Gerakan melawan
maksud saya disini bukanlah gerakan melawan orang tua kita yang semisal tadi, tapi
kita harus bisa belajar untuk terus berjuang melawan segala sikap dan
perubuatan buruk yang sudah melekat pada diri kita dan orangtua kita tadi. Kita
tidak usah ribut melawan atau memerangi keburukan yang ada pada orang tua kita,
karena setiap orangtua memiliki sifat dan karakter yang berbeda beda, ada
orangtua yang bisa mendengarkan ucapan dari sang anak dan ada juga orang tua
yang tidak terima dengan penyampaian anak, kita fokuskan saja pada diri sendiri
dulu. Satu contoh kasus lagi, misalkan saya punya kelainan pribadi yang senang
mencuri atau mengambil hak orang lain, dan hal ini pun ternyata memang dimiliki
oleh ayah saya juga. Nah pada tahapan ini saya bukan malah menegur dan
menyalahkan ayah saya karena diaseorang yang suka mencuri lantas dalam diri
saya pun mengalir darah pencuri. Akan tetapi yang saya lakukan adalah berjuang
untuk melawan diri saya sendiri dari gejala tersebut, ketika ada kesempatan
untuk mencuri dan walau ada keinginan hati untuk mencuri, tapi saya berjuang
untuk melawan itu semua, saya belajar untuk tidak sepenuhnya mengikuti hati dan
nafsu saja, saya masih punya akal yang untuk berfikir. Tidak Cuma-Cuma dan tanpa
tujuan Tuhan memberikan kita akal pikiran, akal memang sengaja diberikan kepada
manusia untuk membungkus, melapisi, dan memagari segala keinginan hati dan
nafsu. Karena hati dan nafsu tidak ada batasnya, jika kita tanya pada hati dan
nafsu kita tentu segalanya kita mau. Untunglah kita punya akal yang bisa
menyaring dan mengontrol segala maksud hati.
Jadi kalau memang kita manusia, seharusnya
kita bisa untuk tidak seperti buah yang jatuh selalu dekat dengan pohon, kita
bisa koq berjuang melawan keburukan dan mempertahankan apa yang baik dari apa
yang diwariskan dalam diri dan jiwa orangtua kita. Kita tidak boleh pasrah dan
hanya berdiam diri,apalagi sampai menyalahkan orangtua kita, karena biar
bagaimanapun karena beliau lah kita ada di dunia ini, seburuk dan sehina apapun
orangtua, beliau berhak mendapatkan takzdim dan penghormatan dari kita
anak-anak mereka. Dan semoga saja bagi kita yang masih diberi kesempatan oleh
Tuhan bisa untuk merubah dan memperbaiki segala sikap dan perbuatan kita agar
bisa bermanfaat bagi orang lain, agar kelak anak turun dari diri kita ini bisa
juga merasakan dari setiap perjuangan yang dilakukan. Karena setiap perjalanan
dan perjuangan bathin seorang ayah atau ibu, akan mengalir dalam darah dan
bathin sang anak juga.