Aku tak pernah mengenalmu sebelumnya, bahkan hingga tulisan ini dibuat pun aku belum pernah bertemu denganmu apalagi untuk mencium tanganmu, tapi bagiku mungkin ini adalah anugrah sekaligus keasyikan yang diciptakan oleh Tuhan yang maha humor kepada setiap hambaNya yang senantiasa setia dalam pencarian, agar selalu tercipta dialektika dan kemesraan.
Aku bisa selalu
belajar darimu, padahal engkau bukanlah guruku. Aku selalu segan dan hormat
kepadamu, padahal engkau bukan lelaki yang membesarkanku. Engkau juga ku anggap
idola, padahal kau tak setampan Ariel Noah. Dan memang aku akui bahwa aku
sangat mengangkat topi setinggi-tingginya kepadamu, bahkan kau termasuk dalam
jajaran para idolaku selain siMbah Emha.
Tapi aku pun tak sebodoh
seperti banyaknya para pemuda masa kini yang
memuja buta para artis idolanya yang ada dilayar tv. Kagumku kepadamu bukan
karena kini kau menjadi penulis terkenal di dunia maya dan bakul kaos yang
cukup sukses dikalangan pemuda, Kekagumanku sungguh diluar dan jauh dari itu semua.
Meski tak melebihi rasa kagumku kepada siMbah Emha dan Kanjeng Muhammad yang insya Alloh
senantiasa deras mengalir dalam darah. Tapi engkau juga selalu ada di dalam
kepala. Engkau selalu hadir saat aku menggunakan akal untuk berpikir, kau
selalu menjadi inspirasi dalam kehidupan ini. Dan aku sangat paham sekali, bahwa
engkau bukanlah sosok yang peduli akan pengakuan dan pujian, apalagi dengan
tulisan ini.
Tapi mbah,. ini adalah fakta dan rasa dari manusia yang
senantiasa ingin belajar agar hidupnya tak sia-sia. Maafkan aku jika banyak kata
dan cara yang mungkin sama seperti apa yang pernah engkau lewati, tak pernah
sedikit pun aku berani menganggap diri ini sebagai murid mu, karena aku sadar
bahwa aku tidaklah lebih bagaikan seekor anak burung gereja yang kelaparan, dan
selalu mencuri padi yang sedang kau jemur dipelataran rumahmu. Bukan aku merasa
pintar sendiri jika aku jarang bertanya kepadamu dan menimba ilmu darimu
langsung, tapi sungguh malu dan canggung bahkan sering merasa tak pantas diri
ini untuk menerima suapan demi suapan dari pengetahuanmu.
Cukuplah bagiku untuk memungut butiran-butiran yang
tertinggal disetiap bekas jejak langkah yang telah kau lalui. Tapi demi dzat
yang maha suci, Itu semua bukan semata-mata karena aku ingin meniru dan menjadi
seperti mu. Kalau aku boleh lancang, maaf, aku akan mengatakan bahwa mungkin
itu smua karena kita berada ditengah rimba yang sama, dan aku mohon restu
darimu agar aku bisa merangkak secara perlahan dibelakangmu dalam menelusuri
rimba yang gelap gulita serta penuh tanda tanya.
Dariku untukmu Al-fateha..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar