Jumat, 11 Maret 2016

Surat Untuk Ustadz Lemu


   Aku tak pernah mengenalmu sebelumnya, bahkan hingga tulisan ini dibuat pun aku belum pernah bertemu denganmu apalagi untuk mencium tanganmu, tapi  bagiku mungkin ini adalah anugrah sekaligus keasyikan yang diciptakan oleh Tuhan yang maha humor kepada setiap hambaNya yang senantiasa setia dalam pencarian, agar selalu tercipta dialektika dan kemesraan. 

   Aku bisa selalu belajar darimu, padahal engkau bukanlah guruku. Aku selalu segan dan hormat kepadamu, padahal engkau bukan lelaki yang membesarkanku. Engkau juga ku anggap idola, padahal kau tak setampan Ariel Noah. Dan memang aku akui bahwa aku sangat mengangkat topi setinggi-tingginya kepadamu, bahkan kau termasuk dalam jajaran para idolaku selain siMbah Emha.

   Tapi aku pun tak sebodoh seperti banyaknya para pemuda  masa kini yang memuja buta para artis idolanya yang ada dilayar tv. Kagumku kepadamu bukan karena kini kau menjadi penulis terkenal di dunia maya dan bakul kaos yang cukup sukses dikalangan pemuda, Kekagumanku sungguh diluar dan jauh dari itu semua. Meski tak melebihi rasa kagumku kepada siMbah  Emha dan Kanjeng Muhammad yang insya Alloh senantiasa deras mengalir dalam darah. Tapi engkau juga selalu ada di dalam kepala. Engkau selalu hadir saat aku menggunakan akal untuk berpikir, kau selalu menjadi inspirasi dalam kehidupan ini. Dan aku sangat paham sekali, bahwa engkau bukanlah sosok yang peduli akan pengakuan dan pujian, apalagi dengan tulisan ini. 

   Tapi mbah,. ini adalah fakta dan rasa dari manusia yang senantiasa ingin belajar agar hidupnya tak sia-sia. Maafkan aku jika banyak kata dan cara yang mungkin sama seperti apa yang pernah engkau lewati, tak pernah sedikit pun aku berani menganggap diri ini sebagai murid mu, karena aku sadar bahwa aku tidaklah lebih bagaikan seekor anak burung gereja yang kelaparan, dan selalu mencuri padi yang sedang kau jemur dipelataran rumahmu. Bukan aku merasa pintar sendiri jika aku jarang bertanya kepadamu dan menimba ilmu darimu langsung, tapi sungguh malu dan canggung bahkan sering merasa tak pantas diri ini untuk menerima suapan demi suapan dari pengetahuanmu.

    Cukuplah bagiku untuk memungut butiran-butiran yang tertinggal disetiap bekas jejak langkah yang telah kau lalui. Tapi demi dzat yang maha suci, Itu semua bukan semata-mata karena aku ingin meniru dan menjadi seperti mu. Kalau aku boleh lancang, maaf, aku akan mengatakan bahwa mungkin itu smua karena kita berada ditengah rimba yang sama, dan aku mohon restu darimu agar aku bisa merangkak secara perlahan dibelakangmu dalam menelusuri rimba yang gelap gulita serta penuh tanda tanya.

Dariku untukmu Al-fateha..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar